Panduan Lengkap
Siaga Bencana di Rumah, Tuntas Sekali Baca: Panduan Lengkap Kesiapsiagaan Keluarga
Kalau Anda hanya ingin membaca satu artikel untuk merapikan seluruh persiapan bencana di rumah, inilah artikelnya. Pekerjaan yang tersebar di berbagai topik kami rangkai jadi satu alur, dari "kerjakan dulu yang ini, baru yang itu": mulai dari memetakan risiko rumah Anda, lalu air dan makanan, tas siaga, mengamankan perabot, listrik dan air padam, rencana keluarga, dokumen penting, sampai sebuah jadwal yang bisa langsung Anda centang. Tiap bagian kami tautkan ke artikel yang lebih rinci, jadi Anda bisa mendalami sambil membaca.
Ingat dulu hal-hal ini
- Urutan bersiap: petakan risiko dulu, lalu stok air dan makanan, lalu kemas tas siaga, lalu amankan perabot, terakhir susun rencana keluarga.
- Air dihitung sekitar 3 liter per orang per hari; tas siaga untuk 1×24 jam pertama, stok rumah ditambah hingga beberapa hari.
- Saat gempa: Menunduk, Berlindung, Bertahan. Bila guncangan kuat atau lama di pesisir, jangan tunggu sirene — segera ke tempat tinggi.
- Risiko terbesar di rumah sering bukan bangunan roboh, melainkan perabot yang tidak diikat ikut terguling, dan tidak adanya persiapan saat listrik dan air padam.
- Bersiap bukan sekali jadi lalu selesai. Periksa secara berkala dan perbarui mengikuti kondisi keluarga.
Kenapa "bersiap sejak awal" mengalahkan "baru sibuk saat kejadian"
Setiap kali gempa besar mengguncang atau banjir besar datang, rak air mineral, senter, dan mi instan di minimarket langsung ludes. Gambar itu berulang tiap tahun, dan di baliknya satu kebiasaan yang sama: kebanyakan orang menunda persiapan sampai keadaan benar-benar genting — padahal saat genting, rak sudah kosong, jalan sudah berbahaya, dan kepala sudah panik.
Nilai sebenarnya dari kesiapsiagaan adalah memindahkan semua keputusan itu ke saat yang tenang. Meluangkan satu akhir pekan untuk membereskan air, makanan, tas siaga, dan pengikatan perabot, jauh lebih baik daripada meraba senter dalam gelap saat gempa, atau menyeberangi pecahan kaca dengan kaki telanjang untuk mencari dokumen. Tujuan bersiap bukan menebak apakah bencana akan datang, melainkan memastikan saat ia datang Anda masih punya pilihan dan kelonggaran.
Susunan panduan ini mengikuti urutan dari "yang paling harus didahulukan" sampai "kalau masih sempat baru dikerjakan". Anda tidak perlu menyelesaikan semua sekaligus, tetapi sebaiknya ikuti urutannya — tegakkan dulu dasar yang menyelamatkan jiwa, baru lengkapi rinciannya.
Ada satu manfaat yang sering terlupakan: keluarga yang persiapannya cukup juga pulih lebih cepat setelah bencana. Saat tetangga masih mengantre air dan menunggu bantuan, orang yang sudah punya air, penerangan, dan rencana bisa menyimpan tenaganya untuk hal yang lebih penting — menjaga keluarga, memastikan keadaan aman, memutuskan bertahan atau mengungsi — bukan berdesakan di depan rak yang sama-sama kosong. Bersiap bukan hanya soal melewati malam itu, tetapi juga menjaga agar hari-hari sesudahnya tidak ikut berantakan.
Langkah pertama: petakan apa yang mungkin menimpa rumah Anda
Bersiap bukan berarti membeli semua perlengkapan untuk semua jenis bencana, melainkan memahami dulu "apa yang paling mungkin menimpa rumah Anda", lalu mencurahkan tenaga ke sana. Dengan anggaran dan waktu yang sama, orang yang tinggal di dataran rendah dekat sungai perlu mendahulukan banjir, sedangkan yang tinggal di lereng gunung berapi perlu mendahulukan erupsi — titik beratnya berbeda jauh.
Luangkan sepuluh menit, petakan sekali keadaan rumah Anda dengan tabel berikut.
| Keadaan Anda | Yang perlu diwaspadai | Baca dulu |
|---|---|---|
| Dekat pantai atau pesisir landai | Tsunami setelah gempa kuat, gelombang pasang | Gempa & Tsunami |
| Lereng atau kaki gunung berapi aktif | Erupsi, abu vulkanik, lahar, status meningkat | Gunung Berapi |
| Dataran rendah, bantaran sungai, langganan banjir | Banjir, air masuk rumah, kendaraan terendam | Banjir |
| Permukiman padat atau rumah lama | Kebakaran, jalur keluar sempit, api menjalar | Kebakaran Rumah |
| Daerah yang sering mati listrik | Listrik dan air padam berhari-hari, makanan kulkas | Listrik Padam |
| Ada bayi, lansia, atau hewan peliharaan | Perbekalan khusus, jalur evakuasi, batasan pengungsian | Tas Siaga Bencana |
Selain lokasi, kenali juga rumah yang Anda tinggali: berapa umurnya, strukturnya beton bertulang atau kayu, ke mana jalur keluar terdekat, di mana sakelar listrik utama dan kran gas, serta apakah pompa air dan tandon bergantung pada listrik. Hal-hal yang biasanya tak terpikir ini justru menentukan apakah Anda bisa cepat bertindak saat gelap karena mati listrik atau saat perlu memutus aliran listrik dan gas dengan segera. Telusuri dan catat selagi sempat — jauh lebih berguna daripada baru mencari saat keadaan sudah genting.
Setelah dipetakan, Anda kira-kira tahu termasuk satu atau dua situasi yang mana. Air, makanan, tas siaga, dan pengamanan perabot adalah dasar bersama yang perlu dilakukan setiap rumah; sedangkan persiapan khusus untuk tsunami, gunung berapi, banjir, atau kebakaran tinggal dipilih sesuai hasil pemetaan tadi.
Air dan makanan: berapa banyak yang perlu disimpan
Dari semua persiapan, air nomor satu. Manusia bisa bertahan beberapa hari tanpa makan, tetapi tidak lama tanpa air — dan justru air bersih yang paling cepat langka serta paling sulit didapat pascabencana.
Patokannya sekitar 3 liter per orang per hari (mencakup minum dan kebersihan minimal). Di tas siaga, siapkan dulu untuk 1×24 jam pertama; bila skenarionya bertahan di rumah dan bantuan belum bisa masuk, air dan makanan sebaiknya ditambah hingga beberapa hari. Pilih makanan yang "memang biasa dimakan, tahan lama, dan tidak perlu dimasak": beras, mi, makanan kaleng, biskuit, kurma, abon, dan minuman seduh.
Pemborosan yang paling sering terjadi adalah memborong sekaligus banyak makanan darurat yang tidak terbiasa dimakan, lalu terbuang seluruhnya karena kedaluwarsa. Cara yang lebih cerdas adalah stok bergilir — yang dipakai segera diganti — sehingga persediaan di rumah selalu berada di tingkat tetap dan semuanya masih segar serta benar-benar akan dimakan. Uraian isi tas dan stoknya ada di Tas Siaga Bencana.
Wadah dan perputaran
Air kemasan yang belum dibuka disimpan sesuai keterangan kemasannya, di tempat sejuk dan terhindar dari sinar matahari. Bila ingin menyimpan lebih banyak, air keran bisa ditampung dalam wadah food grade, tetapi air seperti ini sebaiknya diganti setiap beberapa hari, jangan didiamkan lama. Kuncinya pada perputaran: setiap kali memeriksa tas siaga, habiskan air yang mendekati kedaluwarsa dan isi dengan yang baru, sehingga persediaan selalu segar.
Jangan lupa pula: susu formula bayi, makanan lunak atau rendah garam untuk lansia, serta makanan darurat penderita penyakit kronis tidak bisa digantikan makanan biasa, jadi siapkan tersendiri dan periksa kedaluwarsanya bersamaan. Bayi, ibu hamil, dan lansia lebih rentan dehidrasi, jadi jatah airnya dilebihkan. Soal berapa lama makanan kulkas bertahan saat listrik padam dan bagaimana mengatur urutan memakannya, kami bahas di Listrik Padam.
Tas siaga: ransel yang tinggal disambar
Stok di rumah dipakai untuk "bertahan di tempat", sedangkan tas siaga dipakai untuk "saat harus pergi tinggal disambar" — keduanya disiapkan terpisah. Tas siaga mengutamakan keringanan, hanya berisi yang wajib dibawa saat mengungsi; yang berat ditinggal di rumah.
Bayangkan satu tas berisi tiga lapis: yang menopang malam pertama (air, penerang, obat), yang menopang beberapa hari (makanan, penghangat), dan yang membuktikan siapa Anda (fotokopi dokumen, uang tunai). Letakkan di dekat pintu atau jalur keluar yang mudah diraih, dan periksa secara berkala, ganti air dan obat yang mendekati kedaluwarsa. Uraian isi per item dan cara mengemasnya ada di Tas Siaga Bencana, dan bisa juga langsung memakai daftar yang bisa dicentang.
BNPB menjelaskan tas siaga bencana disiapkan agar keluarga dapat bertahan pada 1×24 jam pertama pascabencana — saat bantuan belum tentu bisa menjangkau — dan mengimbau agar tas ditaruh di lokasi mudah dijangkau serta dicek isinya secara berkala (BNPB, 2026). Membarengkan jadwal pengecekan dengan rutinitas lain membuatnya tidak gampang terlupa.
Amankan yang bisa roboh, jatuh, dan terbakar
Bagi kebanyakan orang yang tinggal di bangunan sesuai aturan, sumber cedera terbesar saat gempa kerap bukan bangunan yang roboh, melainkan benda di dalam rumah yang tidak diikat lalu terguling dan menimpa — lemari buku, televisi, kulkas. Itu sebabnya mengikat perabot adalah persiapan dengan hasil paling sepadan: cukup satu akhir pekan dan biaya kecil, tetapi menahan cedera yang paling sering terjadi.
- Perabot tinggi dan berat seperti lemari buku, lemari pakaian, dan kulkas, ikat ke struktur dinding dengan siku-L atau sabuk pengikat.
- Pindahkan barang berat ke bawah; rak atas hanya untuk yang ringan. Beri pengait pada pintu lemari agar piring tidak melayang saat berguncang.
- Ikat televisi dengan sabuk pengaman; jangan menggantung lampu hias atau bingkai berat tepat di atas tempat tidur dan sofa.
- Di atas dan di sisi kepala tempat tidur serta posisi yang sering ditempati, jangan menaruh benda berat yang bisa roboh atau jatuh.
Tindakan baku saat gempa dan daftar lengkap pengamanan rumah ada di Gempa & Tsunami. Pada akhir pekan yang sama, sekalian kerjakan pencegahan kebakaran: pasang alat pemadam api ringan, kenali sumber api di dapur, dan kosongkan jalur keluar — semuanya ada di Kebakaran Rumah.
Bertahan saat listrik dan air padam
Akibat tersering setelah gempa atau banjir bukanlah bangunan rusak, melainkan listrik dan air padam, dan bisa berlangsung berhari-hari. Melewati hari-hari seperti itu bergantung pada persiapan sebelumnya, bukan pada keberuntungan saat kejadian.
Listrik padam
Untuk penerangan pakai senter dan headlamp, kurangi lilin; power bank biasakan selalu terisi penuh. Satu aturan keselamatan yang paling penting: genset, arang, dan kompor tidak boleh dipakai di dalam ruangan atau balkon tertutup. Karbon monoksida tidak berwarna dan tidak berbau, dan bisa merenggut nyawa tanpa suara di ruang tertutup. Letakkan genset di luar, jauh dari pintu dan jendela. Pintu kulkas usahakan tidak dibuka: kulkas bertahan sekitar 4 jam, freezer penuh sekitar 48 jam, dan setengah penuh sekitar 24 jam (FDA/USDA).
Air padam
Listrik padam sering disertai air padam karena pompa berhenti. Saat ada peringatan cuaca buruk, tampung dulu air non-minum di bak mandi dan ember untuk menyiram kloset dan kebersihan; air minum mengandalkan stok yang dibahas tadi. Penanganan lengkap saat listrik dan air padam ada di Listrik Padam.
Komunikasi dan daya untuk alat medis
Saat jaringan dan menara seluler tumbang, radio bertenaga baterai atau engkol sering menjadi satu-satunya jalur untuk menerima informasi evakuasi dan bantuan resmi, jadi layak disiapkan. Ketika jaringan padat, SMS biasanya lebih mudah terkirim daripada panggilan suara, jadi sepakati dengan keluarga untuk berkirim SMS dulu pascabencana. Catatan khusus: bila ada anggota keluarga yang bergantung pada alat medis bertenaga listrik, rencanakan lebih dulu sumber daya cadangan dan jalur ke layanan kesehatan — kebutuhan ini tidak bisa menunggu sampai listrik benar-benar padam.
Tabel tindakan saat bencana terjadi
Sebaik apa pun persiapan, saat benar-benar terjadi kepala tetap bisa kosong. Karena itu menjadikan "tindakan pertama" sebagai gerak refleks itu penting. Tabel berikut adalah hal yang paling harus dan paling tidak boleh dilakukan pada saat bencana terjadi; sebaiknya dihafal.
| Bencana | Lakukan saat itu juga | Jangan sekali-kali |
|---|---|---|
| Gempa | Menunduk, berlindung di bawah meja kokoh, bertahan sambil berpegang | Berlari keluar, berlindung di kusen pintu, naik lift |
| Tsunami (setelah gempa kuat di pesisir) | Langsung menjauh ke tempat tinggi tanpa menunggu sirene | Kembali ke pantai melihat air surut, menunggu pengumuman dulu |
| Gunung berapi (status meningkat) | Patuhi perintah evakuasi dan radius bahaya, pakai masker dari abu | Mendekat untuk menonton, mengabaikan batas zona bahaya |
| Banjir | Putus listrik sebelum air masuk, ikuti perintah evakuasi langsung pergi | Menerjang air keruh tak diketahui dalamnya, menunda demi memindahkan perabot |
| Kebakaran | Api kecil segera keluar, asap tebal tutup pintu sumbat celah, merunduk menyusur dinding | Naik lift, kembali mengambil harta, menyiram minyak terbakar |
Setiap "jangan sekali-kali" di tabel itu sejalan dengan korban yang benar-benar pernah terjadi: tertimpa benda jatuh karena berlari keluar saat gempa, terseret karena kembali melihat laut surut sebelum tsunami, hanyut atau terperosok karena menerjang banjir, terjebak lift di kebakaran, keracunan karbon monoksida karena membakar arang di dalam. Ini bukan untuk menakuti, melainkan agar "yang tidak boleh dilakukan" Anda ingat sekuat "yang harus dilakukan".
Rencana keluarga: orang lebih penting daripada harta
Selengkap apa pun perlengkapan, bila seisi keluarga tak sepakat soal "saat bencana, bertemu di mana dan menghubungi bagaimana", tetap akan kacau. Inti rencana keluarga yang baik justru beberapa hal yang sederhana:
- Dua titik kumpul: satu di luar rumah (untuk kebakaran), satu di luar lingkungan (saat tidak bisa pulang).
- Satu kontak di luar kota: saat bencana, menghubungi nomor luar daerah kadang lebih lancar daripada lokal. Seluruh keluarga mengingat satu nomor kerabat di luar kota sebagai "pos penghubung" untuk melapor selamat. SMS biasanya lebih mudah terkirim daripada panggilan.
- Perjelas siapa menjaga siapa: siapa menjemput anak, siapa membantu lansia atau yang sulit bergerak, siapa mengurus hewan dan talinya.
Beberapa hal konkret layak diatur sekarang juga: ajari anak menghafal satu nomor telepon (sebaiknya nomor kontak luar kota tadi) dan pastikan daftar penjemput di sekolah; sediakan obat kronis lansia minimal beberapa hari beserta salinan resep, dan pikirkan lebih dulu cara memapah atau jalur kursi roda bagi yang sulit bergerak; untuk hewan, siapkan kandang, tali, dan salinan kartu vaksin, serta ingat bahwa tidak semua tempat pengungsian menerima hewan — cari tahu lebih dulu titik yang ramah hewan.
Kegagalan paling umum adalah rencana yang hanya ada di kepala orang dewasa, sedangkan anak tidak tahu titik kumpulnya di mana. Maka rencana harus diucapkan, sebaiknya ditulis, dan dilatih bersama keluarga setidaknya setahun sekali. Daftar perbekalan per orang bisa dimulai dari Tas Siaga Bencana dan daftar centangnya.
Dokumen penting dan bukti
Setelah bencana, untuk mengajukan klaim, membuktikan identitas, atau mengurus bantuan, semuanya bertumpu pada dokumen. Padahal banjir melumatkan kertas dan kebakaran menghanguskan segalanya. Persiapannya sebenarnya tidak sulit, cukup dua lapis pengaman: satu map kedap air berisi fotokopi kunci (KTP, Kartu Keluarga, akta, kartu BPJS atau asuransi, halaman rekening, sertifikat atau kontrak sewa), ditambah satu cadangan di awan (foto dokumen disimpan di penyimpanan daring yang terlindungi kata sandi, dan beri tahu satu anggota keluarga tepercaya cara mengaksesnya).
Sekalian periksa pertanggungan yang Anda miliki, bila ada. Untuk kerugian akibat banjir atau kebakaran, ingat untuk memotret sebagai bukti lebih dulu sebelum membereskan, karena klaim dan bantuan sama-sama bergantung pada bukti. Daftar dokumen yang perlu dikemas ada di bagian dokumen pada Tas Siaga Bencana.
Penekanan berbeda untuk hunian berbeda
Di atas dasar yang sama, tiap jenis hunian punya bagian yang perlu diperkuat. Cocokkan dengan situasi yang Anda petakan di bagian kedua, lalu dalami yang sesuai kelompok Anda.
Pesisir dan dekat pantai
Tsunami adalah ancaman utama Anda. Kenali jalur dan titik evakuasi ke tempat tinggi terdekat, dan tanamkan satu prinsip pada seisi rumah: bila merasakan guncangan yang kuat atau lama, jangan menunggu sirene — langsung menuju tempat tinggi. Selengkapnya di Gempa & Tsunami.
Lereng dan kaki gunung berapi
Erupsi dan abu vulkanik jadi titik berat. Pahami arti empat level status (Normal, Waspada, Siaga, Awas), siapkan masker dan kacamata pelindung dari abu, lindungi tandon air, dan patuhi radius bahaya yang ditetapkan. Lihat Gunung Berapi.
Dataran rendah dan bantaran sungai
Banjir adalah ancaman pertama. Tinggikan barang elektronik berharga, putus listrik sebelum air masuk, dan saat ketinggian air tak diketahui jangan diterjang. Pindahkan kendaraan lebih awal saat ada peringatan. Lihat Banjir.
Permukiman padat dan rumah lama
Jalur keluar dari kebakaran adalah kuncinya. Kenali satu-satunya jalur keluar, jangan menumpuk barang di gang, pasang alat pemadam, dan jaga agar pintu tetap bisa dilewati. Lihat Kebakaran Rumah.
Anggaran atau waktu terbatas: dahulukan tiga hal ini
Sampai di sini, daftarnya mungkin terasa membuat sesak. Sebenarnya, kalau Anda benar-benar hanya bisa mengerjakan tiga hal lebih dulu, pilih tiga berikut — itu sudah menutup bagian terbesar yang menyelamatkan jiwa. Biayanya tidak besar, tetapi menangkal cedera tersering dan keadaan paling sulit.
- Ikat lemari yang paling besar dan berat di rumah Anda ke dinding. Satu sabuk pengikat murah, tetapi menangkal sumber cedera tersering saat gempa. Dahulukan yang berada di sisi kepala tempat tidur dan posisi yang sering ditempati.
- Sediakan air untuk beberapa hari, ditambah satu senter yang andal. Air adalah yang paling cepat langka dan sulit didapat pascabencana; satu headlamp membuat Anda tak perlu meraba dalam gelap saat listrik padam. Dua hal ini mengatasi bagian tersulit saat listrik dan air padam.
- Sepakati satu titik kumpul dan satu kontak luar kota bersama keluarga. Tanpa biaya sepeser pun, tetapi saat komunikasi terputus dan semua sedang di luar, seisi keluarga tahu harus berkumpul ke mana dan melapor selamat kepada siapa.
Setelah tiga hal ini beres, Anda sudah selangkah di depan kebanyakan orang yang baru sibuk saat kejadian. Bila masih ada tenaga, lengkapi tas siaga, dokumen, dan persiapan khusus satu per satu mengikuti urutan tadi. Kesempurnaan bukan tujuan; mulai bergerak itulah tujuannya.
Jadwal yang bisa langsung diikuti
Membentangkan semua hal di atas sekaligus memang terasa banyak, jadi kami pecah menjadi empat kotak: "hari ini, minggu ini, bulan ini, dan berkala". Ikuti saja, tekanannya akan jauh berkurang.
| Waktu | Yang diselesaikan |
|---|---|
| Hari ini | Petakan risiko rumah, pastikan senter menyala, power bank terisi penuh, simpan satu nomor kontak luar kota |
| Minggu ini | Sediakan air dan makanan tanpa masak untuk beberapa hari, kemas satu tas siaga dan taruh di dekat pintu |
| Bulan ini | Ikat perabot tinggi, pasang alat pemadam, rapikan dokumen penting, sepakati titik kumpul dan rencana keluarga |
| Berkala | Periksa kedaluwarsa isi tas dan stok, perbarui obat, sesuaikan pakaian dengan musim, latih sekali bersama keluarga |
Bila perlu daftar yang lebih rinci untuk dicentang, gunakan Daftar Tas Siaga yang bisa dicentang — bisa dicetak lalu ditempel di dekat pintu atau di kulkas.
Terakhir, beberapa mitos yang sebaiknya ditinggalkan
Sembari membenahi yang benar, bersihkan juga anggapan yang keliru, karena memakai cara yang salah pada saat genting sama berbahayanya. Beberapa anggapan yang tersebar luas tetapi sudah dibantah: saat gempa jangan berlindung di kusen pintu dan jangan percaya "segitiga kehidupan" — yang benar adalah Menunduk, Berlindung, Bertahan. Setelah gempa kuat di pesisir, jangan menunggu sirene tsunami; guncangan itu sendiri sudah peringatan. Membakar arang di dalam ruangan saat listrik padam menyebabkan keracunan karbon monoksida. Minyak penggorengan yang terbakar tidak boleh disiram air; tutup dengan tutup panci dan matikan kompor. Latar belakang dan cara yang benar untuk tiap topik ada di artikel masing-masing yang ditautkan di atas, dan ringkasannya di Tanya Jawab.
Tanya jawab
Apa langkah pertama kesiapsiagaan keluarga?
Petakan dulu bencana yang paling mungkin menimpa rumah Anda (berdasarkan lokasi, jenis hunian, umur bangunan, dan anggota keluarga), lalu curahkan tenaga ke sana. Dasar bersamanya adalah air dan makanan, tas siaga, serta pengamanan perabot; persiapan khusus tinggal dipilih sesuai hasil pemetaan.
Air dan makanan perlu disiapkan untuk berapa hari?
Air dihitung sekitar 3 liter per orang per hari; tas siaga untuk 1×24 jam pertama, dan bertahan di rumah sebaiknya ditambah hingga beberapa hari. Pilih makanan yang biasa dimakan, tahan lama, dan tanpa dimasak, dengan pola stok bergilir agar tidak menumpuk sampai kedaluwarsa.
Hal apa yang paling perlu didahulukan di rumah?
Bila hanya bisa satu, ikat perabot tinggi dan berat ke dinding. Cedera akibat gempa kebanyakan berasal dari perabot yang tidak diikat lalu terguling, sedangkan mengikatnya berbiaya rendah dan cukup satu akhir pekan — persiapan dengan hasil paling sepadan.
Setelah siap, apakah lalu selesai selamanya?
Tidak. Air, obat, dan baterai punya umur, dan kebutuhan keluarga juga berubah. Periksa dan perbarui secara berkala, lalu latih bersama keluarga; membarengkannya dengan rutinitas lain membuatnya tidak gampang terlupa.
Tinggal di apartemen apakah tetap perlu persiapan ini?
Perlu, dengan penekanan sedikit berbeda. Lantai tinggi perlu lebih waspada pada lift yang berhenti saat listrik padam, dan bangunan lama perlu mendahulukan jalur keluar dari kebakaran. Dasar air dan makanan, tas siaga, serta rencana keluarga sama-sama tak boleh ditinggalkan.
Sumber dan verifikasi
Artikel ini merangkum artikel tiap topik di situs ini, dan diverifikasi pada Juni 2026 dengan merujuk sumber publik berikut:
- BNPB — panduan tas siaga bencana (isi dan masa bertahan 1×24 jam, imbauan penyimpanan dan pengecekan berkala)
- BMKG / BNPB — tindakan baku gempa "Menunduk, Berlindung, Bertahan" dan kewaspadaan tsunami di wilayah pesisir
- PVMBG — empat level status aktivitas gunung berapi (Normal, Waspada, Siaga, Awas)
- FDA / USDA — masa simpan makanan kulkas dan freezer saat listrik padam
- FEMA — data keselamatan banjir (kedalaman air yang menjatuhkan orang dan menghanyutkan kendaraan)
Situs ini adalah catatan kesiapsiagaan yang disusun warga. Saat bencana terjadi, utamakan peringatan dan pengumuman terkini dari BNPB, BPBD setempat, BMKG, dan PVMBG, serta arahan petugas di lapangan; artikel ini tidak menggantikan penilaian profesional maupun perintah resmi.